Tips Optimasi WhatsApp Untuk Meningkatkan Repet Order

Tips Optimasi WhatsApp Untuk Meningkatkan Repet Order

Oleh Khairil Amin Rasyid

Di bagian pertama kita akan membahas bagaimana membangun basis customer yang handal dalam mensupport bisnis kita. Materi ini sama sekali dengan product market fit di Artikel sebelumnya yah. 

Sebelumnya saya mau sharing frame worknya dahulu yaaah….

Di fase awal, Yuk kita bangun 100 Pelanggan yang Hepi pertama terlebih dahulu. 

Ini penting sebagai benih awal yang baik untuk bertumbuhnya bisnis kita ke depannya.

 

Yup, Kita harus Ciptakan Benih Audiens / Customer yang tepat.

Benih Audiens dari 100 pelanggan yang bahagia ini membantu brand kita terus bertumbuh lebih baik. 

Kenapa?

karena hal ini membantu kita untuk menciptakan strategi marketing yang tepat, membantu kita untuk menetapkan target market yang tepat, membuat produk yang lebih baik sesuai apa yang dibutuhkan dan diinginkan pelanggan, membuat konten-konten yang pas untuk mereka.

Dan selanjutnya, Fokus ke Customer Journey atau Perjalanan Pelanggan Kita.

Bayangkan proses dimana mereke memulai perjalananan dalam membeli produk kita (online) sampai menjadi marketer yang setia dari produk kita.

Nah, ini framework atau cara kerjanya… Ini mirip sekali dengan prinsip AIDA (Attention, Interest, Desire, and Action)  namun dengan pedekatan yang berbeda.

Layer Pertama :

Traffic : 

Pada proses ini bagaimana agar produk / jasa/ bisnis kita bisa Terkomunikasikan (tabligh) dengan baik. Bisa melalui iklan berbayar (paid traffic), ataupun dengan organik melalui sosial media (facebook, IG, dan Fanpage) dan content distribution media (Youtube dan Tiktok). Cari Highly Value Audience yakni target market yang kemungkinan lebih tinggi untuk membeli produk kita. Ingatnya prinsipnya 2 hal, mereka mau dan mampu untuk membeli produk kita.

Pada proses ini ingat ya KUNCINYA ADALAH  Highly Value Audience. Kita harus menetapkan terlebih dahulu SIAPA YANG MAU KITA LAYANI dan APA PROBLEM MEREKA YANG BISA KITA SELESAIKAN. Ini sangat menentukan strategi marketing yang akan kita gunakan. Ingat! Marketing di sini adalah bagaimana mengkomunikasikan value/ pentingnya produk kita untuk mereka. 

Tentunya kalau kita jual hijab, market kita adalah perempuan. Cek lagi, produk hijab seperti apa? misalnya Gamis Premium Harga 500K, maka kita tidak bisa menarget ke semua perempuan muslimah. Bayangkan siapa yang yang mau dan mampu beli, juga masalah apa yang dimiliki mereka, yang bisa diselesaikan dengan Gamis Premium Harga 500K kita.

Gagal menentukan target market atau  Highly Value Audience siap-siap gagal di step selanjutnya. Tentunya biaya untuk memperbaiki kegagalan tetap keluar kalau kita gagal di bagian ini ya. Kendati begitu, hal ini membutuhkan testing. Dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) kita bisa menggunakan teknik Chunking Down, yakni mengecilkan atau menspesifikkan lagi target market kita. 

Misalnya 

– Dari Perempuan ➡ Perempuan Muslimah

– Dari Perempuan Muslimah ➡ Perempuan Muslimah yang Bekerja

– Dari Perempuan Muslimah yang Bekerja ➡ Perempuan Muslimah yang Bekerja yang ingin tampil percaya diri dalam bekerja dan presentasi di depan calon klien.

Contoh pada FB Ads, ini lebih memudahkan dalam menarget marketnya yah :

Ini kasus pada penjualan kemeja batik yang harganya di rata-rata 370.000 ya. 

Coba kalau kita lihat gambar, kita akan melihat :

  1. range umurnya di angka 27+ tahun, 
  2. gender laki-laki, 
  3. Tinggal di Indonesia. 
  4. Memiliki kesukaan pada barang-barang berharga dan belanja
  5. Tingkat pendidikannya : S1 ke atas
  6. Kerja di bank, ASN / PNS dsb.

Dengan begitu harapannya kita menemukan orang yang mau dan mampu membeli kemeja batik yang harganya 370.000 itu yah..

 

Apakah ini sudah tepat? bisa jadi belum, perlu kita testing dahulu. Bisa jadi nanti fit atau cocoknya di umur 33 tahun ke atas misalnya. Dengan hal ini berdampak pada bagaimana bagaimana kita memanggil mereka, kita mendefinisikan masalah mereka dan apa yang kita tawarkan untuk menyelesaikan masalah mereka.

Kalau kita sedang mencari tim reseller, bayangkan siapa yang mau dan merasa butuh terhadap sistem kereselleran kita, produk yang kita tawarkan, yang di sekitar mereka terdapat target market produk kita, masalah apa yang bisa kita bantu dari bisnis reseller kita, dsb.

Oke Selanjutnya 

Consideration

Ini terjadi dimana calon customer menghubungi atau mencoba mencari tahu tentang produk kita, melalui Chat dengan CS, buka MP, mereka mempertimbangkan untuk membeli produk dari brand kita. Ingat, pada chat, pelayanan CS menjadi ujung tombak, kalau tidak bisa membuat mereka nyaman, maka kita akan kehilangan kesempatan terjadinya penjualan. Untuk kasus melalui marketplace atau medsos, maka kuncinya ada di gambar, deskripsi, dan copy writing pada postingan kita, setelah itu masuk ke chat. Di level ini database harus dikumpulkan. Kenapa? ketika mereka cancel, kita bisa follow up di kemudian hari, atau ketika ada produk terbaru, kita bisa menawarkan mereka kembali. Kalau kita menggunakan Paid Traffic atau Iklan berbayar, kita tidak perlu mengeluarkan budget/ uang untuk beriklan lagi, kita tinggal chat mereka melalu WhatsApp misalnya.

Layer selanjutnya :

Pemesanan :

Di level ini calon customer memutuskan apakah mereka membela, maka menjadi customer kita; ataupun Mencancelnya, jika ini terjadi maka kita harus meng-counter objection/ menghadapi penolakan mereka dengan menanyakan dimana keberatan mereka lalu bantu mereka untuk menyelesaikan keberatan mereka. Layani sepenuh hati. Ingat, kalau ga jadi beli, simpan databasenya, kita bisa hubungi lagi di lain waktu.

Jika mereka membeli. Ingat, ini belum akhir segalanya. Ada perjuangan selanjutnya, yakni pastikan packing dengan baik, paket sampai dengan baik, dan tanya tanggapan mereka terhadap produk kita (minta testimoni nantinya).

Layer berikutnya :

Mereka Menggunakan Produk / Using our product : 

Inilah poin apakah kita bisa membuktikan ke customer apa yang kita sampaikan (baca : janjikan) ketika mereka menggunakan produk kita. Biasanya mereka memberikan testimoninya. 

Produk kita harus benar-benar menjawab kebutuhan dan keinginan mereka. Tujuannya adalah membuat mereka happy dengan produk kita. 

Setelah mereka puas dan happy, mereka akan mempertimbangkan untuk membeli produk kita lagi. Kalau step ini berhasil, mereka akan memberi tahukan orang-orang di sekitar mereka akan produk kita.  Di level Ini product market fit tercipta.

Ingat, di level ini, REPEAT ORDER TERJADI/  TIDAK. Jika kita tidak melewati level ini, maka kita akan lebih sulit untuk memfollow up mereka kalau ada produk terbaru. Kenapa? ”Saya tidak puas, maka untuk apa saya beli lagi?” . Ini menjadi perhatian untuk kita bagaimana kita bisa menciptakan tidak hanya berkualitas tapi juga MENJAWAB MASALAH DAN KEINGINAN MEREKA, MEMENUHI HARAPAN/ EKSPEKTASI MEREKA.

Tahap terakhir,

Raving Fans : 

Nah, ini adalah fase akhir, ketika pelanggan kita happy dengan produk kita yang kita terima. Maka besar kemungkinan merekapun dengan sukarela belanja lagi produk kita, menunggu produk terbaru dari kita, bahkan merekomendasikan produk kita ke circle mereka. Mereka tidak hanya menjadi pelanggan kita, tetapi menjadi Marketer Setia kita, dan itu gratis tis tis. Seru ya..

Fenomena Apple Fan Boy pada gambar di atas, menjadi inspirasi bagi kita, bagaimana mereka membidik target market yang tepat, menjawab kebutuhan mereka, menyampaikan value produk/ bisnis dengan tepat, memberikan produk yang benar-benar menjawab kebutuhan dan keinginan mereka, dan memberikan pelayanan purna jual / after sales yang luar biasa. Ini menjadikan pelanggan Apple begitu loyal bahkan rela antri ketika ada produk baru, bahkan merekomendasikan produk Apple yang mereka gunakan ke orang-orang di sekitar mereka ( circle ).

Untuk teman-teman yang sedang membangun tim reseller, kita juga bisa ambil frame work di atas yah. 

Pertama, bagaimana caranya sistem reseller yang kita bangun kita bisa sampaikan ke orang yang tepat, ini membutuhkan fokus terlebih dahulu, karena setiap produk ada “jodohnya”, kalau kita gonta-ganti produk, calon reseller kita juga bingung, “ini dia sebenarnya jual apa sih?”. Terlalu banyak produk, tentu strateginya makin kompleks, butuh fokus yang terbagi, lalu pertanyaannya hasilnya? sulit untuk maksimal.

Kedua, di tahap Consideration , ketika calon reseller mengkontak kita, maka layani sebaik mungkin, secepat mungkin. Jika kita ga bisa maksimal karena harus memikirkan konten, strategi marketing dsb, bayar karyawan. Didik mereka sesuai value yang dibutuhkan calon reseller kita, tentunya value bisnis kita juga yah.

Ketiga, Pemesanan, ketika reseller mendaftar, pastikan produk kita berkualitas, kita ga mau kan reseller kita malu karena produk kita bermasalah, usahakan pengiriman tepat waktu, kalau ada komplainan dilayani sebaik mungkin.

Keempat, Menggunakan produk. Kalau kereselleran produk sebenarnya ada 2, yakni produk konsumsi yang diterima end user dan produk pelayanan yang diterima reseller. 

Untuk produk konsumsi pastikan berkualitas juga menjawab kebutuhan dan keinginan customer, dan untuk produk pelayanan, pastikan pelayanan ke reseller membuat mereka bertumbuh, berdaya, berkembang, dan produktif. Usahakan kurrikulum sudah tersedia, marketing kit lengkap, konten disiapkan, buat challenge untuk pencapaian target/ pembuatan konten/ perekrutan reseller di level bawahnya, jika tercapai beri mereka reward, jika tidak perlu disiapkan konsekuensinya. Buat mereka berfokus dan nyaman pada kita. Kita tidak perlu punya produk sebenarnya, ketika kita memiliki faktor pembeda dengan leader yang lain, maka timpun akan “menandai” kita sebagai leader yang patut diikuti.

Kelima, Raving Fans, ketika reseller bertumbuh, produktif dan nyaman, maka reseller ada kecenderungan bergantung, ketiga diberi target tertentu, di sana biasanya mereka dengan aktif memasarkan ataupun merekrut tim lagi dengan sepenuh hati.

Terakhir setelah memahami bagaimana Repeat Order Bisa terus berjalan, dengan mindset melalui Framework di atas, sebut saja ya Framework Repeat Order. Penggunaan whatsApp pun menjadi lebih terbayang kaaaan…

Mari kita bahas satu per satu :

 

  1. Langkah pertama, database calon pelanggan, pelanggan dan reseller harus lengkap, dicatat, dan didokumentasikan dengan sebaik mungkin. Ini part penting, Jack Ma mengatakan, sumber daya ke depan yang penting bukan lagi minyak, tapi DATA. 

Data ini yang akan kita olah selanjutnya untuk memfollow jika ada produk terbaru, untuk menyapa mereka, untuk membangun kedekatan dengan mereka.

  1. Langkah kedua, kelompokkan / kategorikan mereka. Bisa berdasarkan tahapan : baru tanya (misalnya di depan dilabeli CB (Calon Beli), contoh CB Miftah ), sudah membeli (misalnya dilabeli CB, contoh CB Mahmud), pelanggan setia/ repeat oder (contoh RO), marketer (mark), leader (Ld). Ini memudahkan kita ketika ingin menyapa mereka, memberikan info promo / produk terbaru, membuat program loyalitas ( loyalty programm ). Kenapa beda? karena kita ga mungkin memberikan program yang sama antara orang yang baru tanya-tanya dengan orang yang sudah repeat order.

Kalau saya memberikan label Mem1 untuk orang yang pernah repeat order.

  1. Langkah Ketiga, buat grup-grup untuk memberikan “konten eksklusif” untuk mereka. Bisa berupa motivasi, tips-tips bertumbuh, dan sebagainya. Ini penting, untuk membangun “bounding”/ kedekatan antara Brand/ Kita dengan Pelanggan / Reseller kita. Pisahkan ya kelompoknya ya berdasarkan kategori di langkah kedua tadi, agar memudahkan isi pesan kita.

Ini merupakan contohnya yah…

Konten feeding selalu diberikan di setiap hari.. Dilakukan sepenuh hati, agar merekapun merasakan manfaat keberadaan brand kita.

  1. Langkah Keempat, Jualan, jangan ragu! Setelah mereka nyaman dan merasakan manfaatnya, maka kita boleh memberikan apa yang mereka butuhkan. Apa? Ya produk kita. Dari fase awal kita sudah menyaring, yakni Highly Value Audience, orang yang memang memiliki kebutuhan dan keinginan dari permasalahan yang bisa diselesaikan produk kita, kita sampaikan produk yang menjawab kebutuhan dan keinginan mereka, kita layani mereka sebaik mungkin, kita layani komplainan mereka, kita support bertumbuhnya mereka. Maka ketika kita mengkomunikasikan produk kita, merekapun bahagia menerimanya. Jadi, jangan ragu yah. Di sisi bisnis, kita sudah menyimpan saldo kebaikan kepada mereka, kita harus memastikan bisnis kita jalan untuk tetap bisa melayani mereka sebaik mungkin, kita butuh apa? Cash Flow, maka kita tawarkan produk yang memberikan nilai untuk bisnis kita. Maka gunakan saldo itu untuk memberikan informasi produk terbaru kita, agar kita mereka membeli dan mendapatkan manfaatnya, kitapun mendapatkan cash flow. Hubungan mesra yang menyenangkan bukan ?

Dalam satu kali broadcast, kita bisa kirim pesan ke semua pelanggan kita sekali jalan. Idealnya sehari maksimal 700 pesan. Contoh di atas, tinggal dibagi 700 aja ya.

  1. Tetap perlebar market kita, sudah punya pelanggan / reseller setia, jangan berhenti. Tetap perlebar pelayanan kita, dengan apa perlebar market dengan kembali ke tahap pertama yakni Ciptakan Traffic, kalau sudah beriklan tetap beriklan, kalau sudah biasa ya endorse ya tetap jalan. Ini kenapa perlu dilakukan, karena pelanggan / tim reseller setia kita tidak selalu belanja di setiap bulannya, ada kalanya ada kebutuhan lainnya, atau bahkan berhenti sama sekali, karena ada hal-hal lainnya. Perlu direfresh terus menerus. Bisnispun bertumbuh, karena jumlah transaksipun terus bertambah. Semakin besar, semakin banyak manfaatnya, bayangkan timpun bertambah, pelanggan bertambah, orang produksi bertambah, perputaran ekonomipun bertambah, insyaAllah berkah.

Database saya buat excell tadi, bisa kita buat Look Like Audience (LLA) di Facebook Ads. Ini adalah fitur dimana facebook membuatkan audiens calon pelanggan yang memiliki kemiripan dengan data pelanggan setia kita. Nanti kalau iklan, maka Facebook akan mengiklankan hanya kepada orang-orang yang profil/ behaviournya memiliki “kemiripan” dengan pelanggan kita.

Ketika ada produk baru dan kita ingin memperlebar jangkauan calon pelanggan kita, maka tinggal iklan saja dengan kriteria calon pelanggan yang “mirip” dengan data pelanggan kita.

Jadi kebayang yah prosesnya ya, dari mindset, cara kerja, Optimasi WA nya, sampai memperbesar bisnisnya. Kurang lebih seperti itu.

Ingat!

Kalau cuma belajar ga jadi apa-apa, kalau mau produktif dan bermanfaat, maka PRAKTIK yaa….

Semoga bermanfaat. 

Barakallahufiikum..

Sampai jumpa di Artikel selanjutnya !

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Product-Market Fit : Bagaimana Membuat Target Market Kamu Menjadi Pasukan Militan Produk Kamu !

Product-Market Fit : Bagaimana Membuat Target Market Kamu Menjadi Pasukan Militan Produk Kamu !

Oleh Khairil Amin Rasyid (Founder BisnisOnlineBertumbuh.com)

Materi hari ini lanjutan dari materi sebelumnya, yakni tentang Produk – Market Fit.. 

Sebagaimana yang kita ketahui di materi 2 minggu lalu, yang membahas Marketing sebagai proses mengkomunikasikan value produk/ bisnis kita. Maka tentunya dalam proses komunikasi ada si penerima pesan atau yang disebut dengan audiens. Audiens ini dalam marketing disebut dengan Target Market.

 

Pertanyaannya selama ini kita mulai bisnis, mulai dari produk dulu atau bisnis dulu? sebenarnya boleh mulai dari salah satunya. Namun di kebanyakan kasus, menentukan target market terlebih dahulu jauh lebih efektif untuk memastikan keberlangsungan bisnis kita. Kenapa? karena dengan setelah menentukan target market, kita akan lebih mudah mengetahui akan kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan begitu, tentunya kita akan mengetahui produk yang dibutuhkan mereka, bagaimana produk kita bisa menyelesaikan masalah/ memenuhi kebutuhan mereka, bagaimana mengkomunikasikan value produk kita, dan dimana kita bisa bertemu mereka.

 

Jika sudah menentukan target market, maka kita akan lebih mudah untuk membuat Product-Market Fit.

 

Pertanyaannya, apa sih Product-Market Fit?

Product-Market Fit adalah sebuah skenario atau cara dimana target market kita bisa melakukan pembelian, menggunakan produk atau layanan kita, hingga membagikan atau memberitahu orang lain mengenai produk kita dengan jumlah yang cukup besar/ massif. Bayangkan jika ini terjadi, maka akan sangat membantu kita untuk meningkatkan penjualan produk, tentunya akan sangat menopang pertumbuhan dari bisnis kita..

 

Konsep ini dikembangkan oleh Marc Andreessen dari Amerika Serikat. Konsep ini merupakan kondisi pada saat bisnis sudah ada di pasar dan sudah memilih sasaran pelanggan / target market yang tepat dengan produk yang kita tawarkan. 

Salah satu contoh ketika product market fit ini berhasil adalah ketika pelanggan kita secara akan senang hati menjadi menjadi sales person untuk produk kita. Kenapa ini terjadi? Biasanya terjadi karena pelanggan kita sudah mendapatkan dan merasakan value dari produk Kita, sehingga dia dengan senang hati dan penuh percaya diri membagikan kebahagiannya / rasa puasnya terhadap produk Kita, karena bisa menyelesaikan permasalah dia ataupun membantu Kondisi yang Diinginkan (KD).

 

Sederhananya dengan Product-Market Fit yang baik, maka pelanggan-pelanggan kita mau men-share pengalaman mereka menggunakan produk Kita kepada orang-orang di sekitar mereka dan follower mereka, kalau hari ini biasanya melalui media sosial yang dimiliki pelanggan Kita. Asik yaaa…. Dan itu gratis.. tis.. tis… Dan teman-teman dari pelanggan kita lebih mempercayai apa yang dishare pelanggan kita, ketimbang mereka melihat iklan produk kita, bahkan daripada endorse yang dilakukan oleh influencer. Coba deh tanya ke kita, kalau ada temen deket kita sharing pengalaman menyenangkan dia ketika memakai krim pencerah wajah, kira-kira perasaan kita bagaimana? penasaran? atau langsung skip, “ah ini mah iklan…”. Tentunya umumnya penasaran? dari interaksi itulah proses marketing secara gratis ini dan powerfull ini berjalan.

 

Produk-Market Fit ini pada akhirnya berdampak kepada proses marketing produk kita dengan dua hal yang menguntungkan :

Pertama, Lebih efesien, pelanggan dengan senang hati membagikan pengalamannya menggunakan produk kita (baca : promosi gratis)

Kedua, Lebih powerfull, umumnya orang akan lebih percaya orang yang menjadi teman/ kenalan dekatnya ketimbang konten dari iklan yang berbayar.

 

Selanjutnya bagaimana cara membuat / melaksanakan Produk-Market Fit yang baik?

 

Pertama, tentukan target market yang tepat!

Kita harus tahu kepada siapa kita akan mengkomunikasikan bisnis kita / produk kita. Coba tanya ke diri kita, “Kira-kira, siapakah yang menjadi target pelanggan dari produk kita?” Jika jawabannya adalah siapa saja, kalau perlu semua orang, pokoknya kalau ada nafasnya, “nah itu pelanggan saya!” 😄. Kira-kira akan lebih mudah menjual produk kita atau sebaliknya?

 

Pertanyaannya, caranya gimana?

1. Tentukan kira-kira siapa yang membutuhkan produk kita, yang dengan adanya produk kita problem/ kebutuhan/ keinginan mereka bisa terpenuhi. Ini penting sekali, karena kita tidak bisa menawarkan produk kita kepada orang yang tidak membutuhkannya. Dalam mempertimbangkan hal ini, kita harus pastikan populasinya banyak. Misalnya ketika kita menjual produk pelangsing tubuh, ya tentunya kita hanya bisa tawarkan pada orang yang punya masalah dengan berat badan/ bentuk tubuhnya. Tips terbaik di tahapan ini adalah tentukan target market yang dengan spesifik masalah dan bisa diselesaikan dengan solusi yang spesifik juga. Misalnya, kita menjual mukena premium. Maka coba fokuskan ke orang-orang yang kalau dikasih mukena biasa saja merasa ga puas, kurang elegan, kurang berkelas atau kurang nyaman. Ini adalah problem yang lebih spesifik, karena umumnya adalah orang pakai mukena hanya untuk shalat saja, tetapi ketika sudah pada hal yang spesifik tadi seperti ingin yang lebih elegan atau berkelas, maka tidak bisa diselesaikan dengan mukena biasa. Cari problem spesifik mereka yang bisa diselesaikan dengan mukena premium (solusi yang spesifik, bukan mukena yang biasa saja).

2. Tentukan, siapa yang mampu mengeluarkan uangnya untuk membeli produk kita sesuai harga yang telah kita tentukan. Pernah jualan menghadapi orang-orang yang tawar dengan harga yang rendah sekali, dan ujung-ujungnya bilang produk kita mahal? Kalau mereka bilang mahal, tanyakan dibandingkan dengan apa? dengan produk kompetitorkah? ataupun dibandingkan dengan isi kantong mereka? kalau dibandingkan dengan isi kantong mereka, maka itu bisa dipastikan, salah target market. Dalam mencari target market orang yang mampu mengeluarkan uangnya untuk membeli produk kita, maka perlu dipertimbangkan faktor demografi (jenis kelamin, usia, kota domisili, tingkat pendidikan, tingkat ekonominya) dan psikografi (kebutuhan psikisnya). Dari pengalaman saya ketika iklan di Facebook Ads, kalau orang yang masuk chat CS saya yang tadi mau membeli ternyata ga jadi karena faktor harga, biasanya saya ubah rentang umurnya, misalnya saya naikkan dari usia 25 – 45 tahun, maka saya geser ke usia 30 – 45 tahun, dengan pertimbangan semakin tua, maka kemungkinan jenjang karirnya lebih tinggi, tentunya gajinya berbeda. Untuk faktor psikografis, bisa dilihat dari gambar hirarki kebutuhan psikologis oleh Abraham Maslow, semakin level atas, biasanya semakin banyak uangnya.

Orang yang sudah selesai kebutuhan dasarnya, kemungkinan daya belinya lebih tinggi.

3. Tentukan orang yang familiar kita kenali kebutuhan dan perilakunya. Akan lebih mudah bagi kita untuk merumuskan cara promosinya, penggunaan copy writing-nya, lewat media apa, dan sebagainya. Kalau belum mengenalnya, maka ajak ngobrol mereka, tanyakan harapan mereka terhadap produk kita yang mereka pakai.

 

Kedua, Tentukan value proposition produk kita

Value proposition merupakan sebuah bagaimana produk kita bisa membantu memenuhi kebutuhan pelanggan kita secara lebih baik dibandingkan dengan produk yang sudah ada atau kompetitor. Hal ini guna memberikan ciri khas yang bisa jadikan branding dari produk kita 

 

agar lebih mudah diingat oleh pelanggan kita. Fokus saja pada beberapa hal saja dimana hanya kita yang bisa memenuhinya dan memberikan dampak besar untuk pelanggan produk kita.

 

 

Ketiga, uji coba, jika diterima target market, gas!

Penting sekali untuk test dahulu produk kita, tidak langsung menyetok banyak atau produksi banyak. Tes dahulu, apakah diterima oleh target market kita atau tidak dan apakah terjadi pembelian ulang (repeat order). Jika kedua hal ini tercapai, maka kita bisa besarkan usaha marketing kita dan stok ataupun produksi lebih banyak. Jika proses ini berulang, maka gas! Maksudnya? Anggarkan biaya marketing yang lebih besar, seperti budget iklan di facebook Ads ataupun media lainnya, meng-endorse melalui micro influencer dengan jumlah yang banyak, dan sebagainya. Kenapa? Ada kemungkinan kompetitor melihat trend ini lalu mengekor, ketika mereka mengekor, kita sudah maksimalkan penjualannya dan mempunyai budget untuk menguji membuat varian produk baru yang sejenis. Jadilah market leader!

 

 

Demikian materi ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat…

Terima kasih sahabat sudah membersamai proses belajar ini.

Barakallahufiikum 🤲🤲🤲

 

Sampai jumpa di Artikel selanjutnya !

Fase Pertumbuhan Bisnis Kamu

Fase Pertumbuhan Bisnis Kamu Oleh Khairil Amin Rasyid Hari ini kita akan membahas tentang Fase Pertumbuhan Bisnis ya. Materi ini mengutip dari Buku It’s Easy

Read More »

Membangun Bisnis Online

Jadi hari ini kita akan coba membahas Memahami Bisnis dalam Konteks Inovasi dan Marketing. Dalam konteks maksudnya adalah dalam hal/ berkenaan ☺️.

 

Kenapa perlu membahas Inovasi dan Marketing, karena ini terkait dengan fase awal atau fase kritis pertama untuk kita semua dalam memulai bisnis.

Coba di sini siapa aja yang baru mulai? Atau sudah mulai tapi jatuh lagi, dan mulai dari nol lagi atau minus lagi?. Ga apa-apa sahabat ga sendiri 😁

Banyak kok yang gitu. Tapi ini bukan alasan juga ya untuk tidak bergerak untuk memperbaiki diri. 

 

Kenapa saya bilang ini, ada kalanya kita butuh teman untuk bercerita atau menyandarkan diri ke teman-teman yang mengalami hal sama, agar terasa tidak sendirian. Di titik ini yang terpenting adalah saling menguatkan, bukan saling membenarkan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sehingga kita jatuh. Orang yang berhasil, tidak selalu dilihat dari titik kesuksesannya yang terlihat saja ya. Ya… Pencapaian hari ini.

 

Tapi yang perlu dilihat adalah seberapa banyak dia jatuh dan bangkit lagi.. karena bisa jadi jatuhnya lebih banyak dari berhasilnya. Namun karena titik keberhasilannya jauh di atas kegagalan/ jatuhnya, jadi titik itu yang terlihat jelas.

Dalam membangun Bisnis, menurut Peter Ferdinand Drucker, seorang Bapak Manajemen Modern, bisnis sejatinya terdiri dari 2 hal yakni

– Inovasi atau penemuan, dan

– Marketing atau pemasaran.

 

Inovasi dalam bisnis adalah kemampuan kita untuk menciptakan nilai/ value/ sesuatu yang berharga untuk konsumen bisnis kita. Maksudnya adalah sejauhmana bisnis/ produk kita bisa menyelesaikan masalah yang dialami konsumen kita. 

Pertanyaannya adalah apakah kita sudah mengetahui masalah yang dialami konsumen kita yang bisa diselesaikan dengan produk kita ?

Ini yang sering dilupakan sih…

Biasanya (walau ga semuanya) start bisnis/ usahanya dimulai dari Ide, “kayaknya produk saya bagus nih…”, “Masakan saya enak nih…”, “Saya suka buat kerajinan tangan ini, dijual kayaknya laku deh”…

 

Kita mulai dari diri kita, Bukan dari kacamata market/ orang bersedia dan mampu membeli apa yang kita sajikan kepada mereka. Kalau masih bingung, sederhananya… Ya dimulai dari ego kita sebagai pebisnis.

Kita bahas Poin Inovasi dan Marketing. Apa yang dimaksud dengan value/ nilai di sini adalah kemampuan bisnis/ produk kita dalam membantu konsumen kita menyelesaikan masalahnya ?

 

Value ini harus memenuhi Dua Kriteria, yakni :

  1. Fungsional
  2. Emosional

 

=> Fungsional maksudnya adalah bisnis/ produk/ jasa yang kita sajikan memiliki fitur-fitur, fungsi, ataupun benefit yang sangat berguna sekali dalam menyelesaikan masalah konsumennya.

 

Contoh: kalau kita jual mukena ya.. 😁

Misalnya harus nyaman,  menutup aurat untuk shalat, dan sizenya pas (tidak longgar banget ataupun kekecilan).

Untuk memenuhi aspek/ dalam hal menutup aurat dalam  shalat (syariat) sudah terpenuhi. 

 

Contoh kedua : misalnya kita jual makanan, bakso aci misalnya yah…

Kriteria fungsional adalah enak dan menyenangkan. 

 

Ini harus dipenuhi dahulu yah.. karena validasi produk/ sederhananya konsumen bisa ridha mengeluarkan uangnya untuk membeli produk/ jasa kita karena sudah memenuhi fungsi yang diharapkannya. Ini pentingnya kita untuk memastikan dahulu produk yang kita jual sudah pasti diridhai pelanggan kita yah 😁🙏🏻

 

Faktor ini juga yang membuat pembelian berulang/ repeat order dari konsumen terus terjadi.

 

Dan tahu apa artinya Cuan ? 😁 

 

Pembelian berulang ataupun berlangganan menjadi ruh bisnis kita. Tidak hanya itu, terpenuhi kriteria fungsional, pada umumnya membuat konsumen mau menjadi marketer gratis produk/ jasa kita. Dia akan senang sekali bercerita, merekomendasikan produk kita ke orang-orang di sekitarnya. Untuk apa? Agar orang-orang di sekitarnya merasakan manfaat yang sama dengan apa yang dia rasakan. 

Enak yah kalau dah begitu…

 

=> Kriteria yang kedua adalah Emosional. Nah.. ini menariknya. Pernah beli tas mahal dan juga yang murah? 

Katakanlah dengan kualitas yang sama…

 

Kira-kira kenapa? 

 

Umumnya karena kriteria Emosional ini yang memegang kendali. Karena kriteria Emosional ini, konsumen ridha / bersedia/ mau mengeluarkan koceknya lebih dalam untuk mendapatkan produk kita. Contohnya adalah HP yah… HP yang ada logo Apelnya di belakang, mencitrakan konsumennya sebagai orang yang lebih mapan, sukses, dsb…

Emosionalnya dimana? 

Mungkin Ingin “diakui”/ “lebih diterima” orang lain. Mobil Ferrari dan Kol bak (mobil niaga), sama-sama punya Dua Pintu. Bahkan kalau kita pikir-pikir lebih banyak fungsi mobil niaga daripada mobil sport (Ferrari misalnya).

Sederhana, karena faktor emosional, orang mau mengeluarkan koceknya yang kalau dikonversi nominalnya bisa membeli mobil niaga bisa lebih dari 10 mobil. 

 

Pertanyaannya: apakah kita sudah mengetahui faktor emosional apa yang ada di konsumen kita sehingga dia mau mengeluarkan uangnya untuk memiliki produk kita ?

 

Kalau sudah tahu.. ini enak banget, untuk copywriting/ penulisan bahasa iklan/ promo kita ya tinggal kata-kata emosional si konsumen kita. Misalnya agar terlihat cantik, agar disayang suami, agar makin eksis, agar ibadah semakin khusyuk.

 

Oke lanjut ya, terakhir…

 

=>  Marketing….

Saya ambil definisi Mas Syaiful Islam dari Inbound Marketing ya..

Marketing adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan value produk/ bisnis kita kepada konsumen kita. Definisi ini menarik. Karena lebih dalam maknanya. Dahulu saya berfikir marketing adalah kegiatan yang mendatangkan calon konsumen kita ke toko kita. Dalam bisnis online adalah bagaimana caranya kita mendatangkan traffic/ kunjungan calon konsumen ke toko kita. Toko ini dalam artian media online ya.

Misalnya: IG, Market Place, FB, TikTok shop kita, atau langsung ke WA bisnis kita.

 

Balik lagi… Kemampuan dalam mengkomunikasikan value produk kita menjadi poin terpenting dalam keberlangsungan bisnis kita. Sederhananya ketika kita berhasil mengkomunikasikan/ mengedukasi produk kita,  dengan menjawab kebutuhan/ masalah konsumen (dengan mengatakan, “wah gw banget nih!”, “Ini yang saya cari!”, “Wah ada yang baruuuu, sukaaa banget, cocok buat eksis di depan ibu-ibu pas antar sekolah si kecil nih 😅”). Maka kemungkinan besar transaksi/ jual beli terjadi.

 

Artinya apa?

Cuan berdatangan 😁

 

InsyaAllah kalau cuan lancar, dikelola dengan baik, bisnis kitapun akan bertumbuh dan memberikan manfaat… Aamiin Ya Rabbal Aalamiin 🤲🤲🤲 

 

Dalam menyampaikan/ mengkomunikasikan produk kita ada beberapa hal yang perlu dipahami :

  1. Harga lebih tinggi dari value : kemungkinan konsumen akan bilang, “mahal”.
  2. Harga sama dari Value : kemungkinan konsumen akan bilang, “oke saya beli deh, tapi bentar deh, cari produk lainnya yang sama, ada yang lebih murah gak?” 😅😅😅 (Drama belanja di Market Place).
  3. Value lebih tinggi dari Harga, apalagi value kriteria Emosional (dengan bumbu promo terbatas, diskon hari ini aja), maka konsumen akan cenderung langsung bilang, “beli sekarang!”  ☺️🙏🏻

 

Tapi ingat ya, jangan sampai apa yang kita komunikasikan menjadi over promise/ over claim/ berlebihan menyampaikan valuenya.. kalau ternyata kenyataannya valuenya di bawah itu..maka biasanya konsumennya bilang, “duh kapok dah” 😅

 

Sekian pembahasan hari ini, semoga ke depannya kita bisa sama-sama bertumbuh dan saling support ya🙏🏻😊. Sampai jumpa di Artikel selanjutnya !

Memahami Bisnis : Founder Fit “Mengetahui Apakah Bisnis Kita Cocok dengan Diri Kita”

Materi hari ini adalah bagian dari serial materi : Memahami Bisnis yang bertujuan mengantarkan sahabat agar bisa memahami bisnis sebaik mungkin. Harapannya ini bisa membantu kita semua, termasuk saya, untuk membangun bisnis yang berutumbuh, sustainable/ berkelanjutan dan bermanfaat/ berkah. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin 🤲🤲🤲

 

Materi yang kedua ini adalah lanjutan materi minggu lalu tentang “Memahami Bisnis : Inovasi dan Marketing”. 

 

Materi “Memahami Bisnis : Founder Fit, Mengetahui Apakah Bisnis Kita Cocok dengan Diri Kita”

Bertujuan agar kita bisa terbantu dalam memahami apakah bisnis kita sesuai dengan diri kita. Dan apabila belum sesuai, bagaimana caranya agar bisa selaras dengan diri kita, aspek hidup kita yang lainnya, seperti spiritualitas, pengembangan diri, keluarga, dan sosial. Dalam menjalankan atau sebelum menjalankan bisnis penting sekali kita untuk mengecek kembali  bisnis yang kita akan/ sedang jalankan, apakah sudah sesuai dengan diri kita atau tidak, jika tidak dan terlanjur berjalan, bagaimana menyelaraskannya?

 

Mengapa hal ini penting? Sederhananya ketika kita memilih bisnis sebagai jalan ninja kita 😁 atau jalan hidup atau profesi kita, maka kita perlu memahami apa alasan terpenting kita memilih bisnis ini?

 

Seperti yang kita tahu, bahwa dalam bisnis, kemungkinan gagalnya lebih besar daripada berhasilnya. Kemungkinan untuk tidak bertahan lebih besar daripada yang bertahan

 

Penelitian dari Universitas Tennessee pada tahun 2013 mengatakan bahwa 25% bisnis gagal setelah 1 tahun, kemudian berlanjut 35% setelah tahun kedua. Kegagalan ini lebih besar lagi ditahun ketiga, yaitu 44%. Artinya jika ada 10 bisnis, hanya akan ada 2-3 bisnis saja yang akan bertahan setelah tahun ketiga.

Tentunya apabila kita memahami alasan kita untuk menjalankan bisnis yang kita pilih, ini menjadi bahan bakar yang terus mendorong kita untuk bertahan selama mungkin, jika memungkinkan, bisa diwariskan ke anak cucu kita..

 

Simon Sinek menyebut bisnis sebagai infinity game/ permainan tanpa batas, bukan finite game/ permainan yang dibatasi. 

 

Maksudnya gimana?

Infinity game itu kita ibaratkan pertandingan sepakbola, dimana kita mengetahui siapa lawan kita, jelas aturan mainnya, dan berapa lama permainannya.

 

Infinity game menggambarkan bahwa apa yang kita lakukan jelas cara kerjanya dan batasan waktunya.

 

Sebaliknya infinity game menggambarkan permainan tanpa batas, yakni tidak jelas kapan berakhirnya, peraturannyapun bisa berubah-ubah, bahkan kita tidak mengetahui jelas kompetitor kita siapa dan apa yang dilakukannya.

 

Bisnis adalah infinity game, dimana selalu berkembang dan berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Dulu apabila kita mau berpergian menggunakan taksi, sudah terbayang mobil taksi itu ada neon box/ lampu merek di ata mobil, warnanya seragam ( kalau ga biru muda, kuning, atau putih misalnya ya), cara manggilnya harus ke jalan besar lalu kalau lewat dan kosong kita panggil pakai tangan. Sekarang? Tentunya sudah sangat berbeda dengan hadirnya taksi online. 

Mungkin kalau hari ini kita ke pinggir jalan lalu berhentikan taksi, bisa jadi tampak aneh.

Begitupun model bisnis, awal tahun 2000an, mungkin kita ga terbayang sampai tahapan hari ini, dimana komunikasi hanya lewat telp dan SMS. Ingin punya bisnis harus punya barang, ada lapaknya/ tokonya, dan sebagainya. Hari ini semakin mudah, ga ada barang bisa dropship, ga toko fisik, bisa buat toko di sosial media ataupun marketplace. Pelanggan hadirpun lewat chat..

Semuanya semakin mudah. Maka persaingan-pun semakin ketat, karena pemainnya-pun semakin banyak.

Tanpa mengetahui Alasan mengapa kita memilih bisnis kita, maka sulit sekali bagi kita untuk bertumbuh, bahkan sekedar untuk bertahan.

(Alasan yang kuat)

 

Dasar alasan / tujuan yang kuat ketika kita menjalankan bisnis  inilah yang nanti yang menjadi dasar kita menyusun bagaimana caranya dan Melalui atau dengan apa tujuan bisnis kita bisa dicapai.

 

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika kita hendak memulai ataupun menjalan bisnis, saya sebut PE3M :

 

  1. P : Passion

Sejauh mana Kita enjoy/ menikmati di situ, kita sangat menyukainya. Patokannya adalah walaupun tidak dibayar, kita dengan senang hati menjalankannya. Walaupun gagalpun, kita maju terus.

 

  1. E : Expertise/ keahlian Ini adalah dimana kita ahli di bidang tersebut, ataupun kita sangat menikmati proses belajar di bidang tersebut.

 

  1. M : Market, 

Populasi target marketnya banyak, yaitu orang-orang yang Mau (kebutuhannya terpenuhi oleh bisnis/ produk kita) dan Mampu untuk membelinya.

 

  1. M : Mission

Yakni dimana kita memiliki tujuan tertinggi ketika menjalankan bisnis yang kita pilih. Faktor ini adalah yang terpenting.

 

  1. M : Money, 

Yaitu dimana tidak hanya banyaknya orang bersedia mengeluarkan uangnya untuk  mendapatkan produk dari bisnis kita, tetapi sejauhmana bisnis ini bisa terus mengalirkan uang kas kita, yang nantinya digunakan untuk pertumbuhan bisnis kita selanjutnya.

 

Pertanyaan urutannya bagaimana? Mana yang lebih penting ada lebih dahulu.

Kita urutkan yah Mana yang lebih dahulu :

Pertama, Mission

Kedua, Passion

Ketiga, Market

Keempat, Money

Kelima, Expertise

 

Pertama, Mission

Ini adalah energi terbesar dalam menjalankan bisnis kita. Alasan yang kuat ini biasanya lebih bertahan jangka lama, dia akan menemukan caranya. Bisa jadi di bisnis A, kita tidak merasa cocok, maka dengan Mission, kita akan memperbaiki mana yang kurang, ataupun mencari jalan lainnya, misalnya Bisnis B.

Kita tidak berhenti begitu saja ketika kita menemukan hambatan, bahkan kegagalan, ini menjadi sumber energi untuk terus bergerak.

Bagaimana menemukannya?

Tanyakan kepada diri kita, mengapa ini penting? Atau seberapa penting? Ketika kita hendak memulainya/ sedang menjalaninya.

Contoh :

Saya mau bisnis jualan mukena

Mengapa ini penting?

Karena saya bisa ikut serta menjalankan membantu orang-orang lebih khusyuk dalam shalatnya. Karena dengan pakaian terbaik harapannya bisa semakin terasa khusyuk. 

Mengapa ini penting?

Bisa menjalankan bisnis yang berkah, membuat saya lebih tenang. Saya mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Mengapa ini penting?

Karena saya ingin memiliki bekal yang cukup di hari akhir nanti untuk bertemu Allah SWT di SyurgaNya. Aamiin

Lebih dalam, biasanya bergetar hati kita.

Kedua, Passion

Ini menjadi yang kedua karena dengan passion, kita merasakan bebas hambatan, punya semangat terus, mau keadaan menurun, kompetitor banyak, permainan bisnis berubah, kita akan terus enjoy. Passion ini membuat daya tahan kita dalam menjalankan bisnis sehari-hari menjadi lebih kuat. Mungkin berjam-jam tidak terasa, biaya yang keluar tidak mengapa. Karena apa? Kita senang menjalaninya 😅👍🏻

Passion ini kadang abstrak, misalnya bisnis apa juga suka, asal ada duitnya. Terus ditanya apa yang disukai, kadang duitnya 😅 atau aktivitas jualannya.

Ketiga, Market

Jelas, bisnis kita harus ada target market yang jelas dan populasinya harus banyak. Bisnis ya dimulai dari market dulu, karena dari sana transaksi ada. Orang yang membutuhkan produk untuk mengatasi masalahnya harus banyak. Ini yang membuatnya tidak musiman.

Keempat, Money

Penting sekali untuk memastikan bahwa bisnis yang kita pilih bisa terus mengalirkan uang, tentunya musiman bisa jadi boleh, yang harus dijawab adalah selanjutnya apalagi? Cari akarnya.

Misalnya kita mulai dari es kepal Milo, karena booming, akar produknya apa? Minuman. Dari sana kita harus menyiapkan produk selanjutnya agar bisa terus mengalirkan money ke bisnis kita.

Kelima, Expertise/ Keahlian

Kenapa ini yang terakhir? Karena bisa dipelajari. Kita sudah punya alasan yang kuat dan kitapun senang menjalankannya. Maka mempelajari bisnis tersebut lebih dalam akan lebih mudah, terlebih lagi dengan informasi/ ilmu yang berserakan di YouTube ataupun artikel di website, tinggal googling aja. ☺️👍🏻 

Oke setelah punya kelima hal di atas, selanjutnya bagaimana?

Bagaimana memulainya/ menyelaraskannya?

Bagaimana memulainya?

  1. Awali dari yang termudah dan berdampak

Mulailah dengan yang termudah dahulu, yang menyenangkan kita, yang berdampak pada tujuan kita. Kalau perlu discoring/ diurutkan mulai dari dari mudah dan berdampak terlebih dahulu.

  1. Bebaskan diri kita

Maksudnya adalah lakukanlah selepas mungkin, jauhi pikiran berlebih, pikiran rasa bersalah karena pernah gagal. Lakukan seperti anak kecil.

  1. Selaras dan Istiqamah

Lakukan dengan selaras, disesuaikan dengan konteks kita berada. Maksudnya? Sejauhmana bisnis yang kita jalani selaras/ sejalan dengan syariat, dengan kepentingan keluarga kita, kondisi kesehatan kita, dengan waktu dan sumber daya yang kita miliki. Jangan sampai kita menjalankan bisnis tetapi tabrak sana sini, atau mengorbankan keselarasan kehidupan kita yang lainnya. Misalnya kita bisnis tujuannya untuk membahagiakan keluarga, tetapi dalam menjalankannya justru kita ga punya waktu berkumpul bersama keluarga. Maka di sini kita perlu evaluasi lagi. Setelah selaras, lakukan dengan Istiqomah/ persisten/ terus menerus, lakukan yang terbaik di setiap part-nya/ tahapannya/ prosesnya. Karena bisa jadi apa yang kita anggap sepele ternyata itu membawa dampak besar pada kehidupan bisnis kita. 

  1. Merayakan kemenangan kecil.

Kunci bersyukur adalah kita menyadari nikmat yang Allah SWT kasih sekecil apapun itu. Sama hal dengan kaidah ini, memberikan penghargaan atas keberhasilan kita sekecil apapun membuat kita semakin semangat, banyak bersyukur, dan memiliki energi yang besar dan terus menerus untuk menjalankan bisnis kita.

  1. Hadir seutuhnya.

Maksudnya adalah kita benar-benar menjiwai saat menjalan bisnis kita, maksudnya kita benar-benar memaksimalkan waktu yang kita punya ketika menjalankan bisnis kita.

Contohnya: ketika kita posting, fokuslah ke posting, jangan ke scrolling. Ketika kita rapat dengan tim, fokuslah kepada masalah yang kita hadapi, kepada orang-orang yang ada. Hindari pikiran yang berkelana. ☺️👍🏻 

Semoga materi ini bisa membantu sahabat BOB di sini dalam menemukan dan menjalankan bisnisnya. Sampai jumpa di Artikel selanjutnya.