Menjadi Bahagia Dengan Hadir Seutuhnya

Menjadi Bahagia Dengan Hadir Seutuhnya

Oleh Khairil Amin Rasyid

Materi hari ini kita akan membahas tentang hasil sebuah riset tentang kebahagiaan. Namun sebelum dimulai, disclaimer, bahwa materi hari ini sifatnya kasuistik, tergantung dari apa yang kita hadapi ya, bisa jadi konteksnya berbeda.

Coba kita ingat-ingat lagi, sering ga dalam perjalanan Kita sampai hari ini, pikiran kita sibuk memikirkan hal-hal di luar diri kita, yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan apa yang Kita hadapi sebenarnya. 

Misalnya, Kita membayangkan, sepertinya indah sekali jika pasangan Kita bisa semenarik artis-artis Korea yang ada di Drakor, membayangkan betapa indahnya kalau kita punya ini punya itu, membayangkan betapa bahagianya Kita bisa punya kendaraan seperti yang tetangga beli kemarin. Pernah?

Oke pertanyaannya adalah bagaimana rasanya?

Benar-benar menyenangkan?

Apa hanya sesaat, lalu setelah terbang tinggi, kita melihat realita yang jauh dari kenyataan, sehingga yang awalnya ketika dalam keadaan membayangkan hal itu tadi kita begitu bahagia, kini 180 derajat berubah total.

Nah, ada yang menarik nih, dari riset Matthew Killingsworth, Ph.D, beliau mengumpulkan 650.000 laporan atas 150.000 responden di 80 negara. Respondennya terdiri dari beragam profesi, umur, dan status pernikahan. Dia mengajukan tiga pertanyaan : 

  1. Apa yang Anda rasakan saat ini? 
  2. Apa yang sedang Anda lakukan saat ini? 
  3. Apakah Anda memikirkan hal lain selain apa yang sedang Anda lakukan saat ini? 

a. Tidak.

b. Ya, hal yang tidak menyenangkan.

c. Ya, hal yang menyenangkan.

Ternyata, Hasilnya sangat mengejutkan. Kita cenderung kurang bahagia saat pikiran kita mengembara. Saat pikiran kita memikirkan hal lain di luar hal yang sedang kita lakukan saat ini. Baik pikiran itu berdampak menyenangkan, tidak menyenangkan, atau cenderung netral. Pikiran ini yang disebut dengan Mind Wandering atau Pikiran yang Mengembara, ternyata menjadi penyebab ketidakbahagiaan, bukan sebaliknya.

Yang lebih mengejutkan lagi, Ternyata Mind Wandering ini memakan 47% waktu Kita. Mind Wandering ini terjadi entah itu kita lagi ngobrol sama pasangan, sama anak, lagi cuci piring, lari pagi, makan, minum, bahkan maaf sedang intim dengan pasangan. Tidak heran, ini yang umumnya yang membuat orang-orang kurang bahagia. Pertanyaannya, Kita gitu ga?

Pertanyaannya adalah bagaimana mengadapinya? 

Pernah dengar istilah “Hadir Seutuhnya” atau Presence

Ternyata ini yang bisa menjadi solusinya.

Kira-kira maksudnya apa? ada yang mau / bisa jawab?

Hadir seutuhnya adalah ternyata sebuah keahlian lho, bagaimana kita bisa memfokuskan seluruh pikiran Kita pada apa yang sedang Kita lakukan saat ini, kepada siapa kita berinteraksi. Kita terlibat sepenuhnya dengan apa yang kita kerjakan, dengan siapa yang ada dihadapan Kita. 

Ketika kita sedang makan, maka nikmatilah setiap makanan yang masuk ke mulut kita, Ulama Ibnu Qoyyim mengatakan bahwa Kita bisa merasakan syukur, ketika kita menyadari apa yang kita nikmati di saat itu. Sulit rasanya ketika kita makan seenak apapun, tetapi kita memikirkan keinginan untuk mendapatkan kehidupan seperti orang lain. Sulit rasanya untuk mensyukuri pasangan atau anak Kita, ketika kita membandingkannya dengan orang lain, yang “tampak lebih sempurna”.

 

Yuk Kita bahas manfaat Hadir Seutuhnya atau Presence :  

  1. Hadir seutuhnya membuat kita semakin mudah bersyukur, tentunya berbahagia.

Karena kita meletakkan kebahagiaan dengan nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita, bukan nikmat yang dikaruniakan tetangga Kita, artis idola kita, bos kita, ataupun orang lainnya yang “kita anggap lebih bahagia dari diri Kita”. Meletakkan kebahagiaan Kita pada standar orang lain atau yang orang lihat, sebenarnya membuat Kita menjadi tidak bahagia. Maka syukuri apa yang kita nikmati hari ini.

Faktanya setiap dari kita diberikan “area bertumbuh berbeda-beda (baca: Ujian)”, Kita bertumbuh karena bisa melalui ujian yang ditetapkan Allah SWT. Kita bisa menjadi orang yang lebih bersabar, karena kita dikenalkan dengan rasa marah, kurang puas, ataupun tergoda dari apa yang kita hadapi. Kita tidak tahu ujian apa yang sebenarnya dihadapi orang yang kita anggap lebih bahagia dari diri Kita atau kehidupan yang kita inginkan. Kita tercipta dengan unikan tersendiri, kemampuan berbeda, kecenderungan berbeda, tentunya ujian dan nikmat yang diterima juga berbeda.

  1. Hadir seutuhnya membuat hubungan Kita dengan orang yang kita cintai atau di sekitar kita lebih harmonis atau hangat. Tentunya ketika Kita berinteraksi dengan hadir seutuhnya dengan mensyukuri apa yang ada di diri kita ataupun orang yang di hadapan kita (baik itu pasangan, anak, orang tua, mertua, saudara, sahabat, dsb), membuat kita lebih menikmati hubungan Kita dengan orang-orang disekitar kita. Bisa jadi pasangan yang dititipkan kepada Kita tidak memenuhi apa yang Kita inginkan, tetapi dialah satu-satunya orang yang bersabar atas segala kekurangan yang ada pada diri kita. Ketika Kita melihat ada yang Kita kurang pada anak Kita, bisa jadi karena Kita sibuk melihat anak orang lain, namun gagal melihat betapa anak sebenarnya adalah karunia yang besar yang dititipkan pada kita, mungkin yang sebenarnya terjadi, Kita yang jarang atau tidak pernah hadir seutuhnya untuknya, untuk menemani serta membimbing pertumbuhannya.

 

Bagaimana melatih Kemampuan untuk Hadir Seutuhnya?

  1. Fokus pada apa yang kita lakukan. Ketika kita sedang makan, maka syukuri makanan yang kita lihat, syukuri setiap rasa yang dikecap lidah kita. Ketika Kita sedang melakukan posting atau iklan produk Kita, fokuslah dengan apa yang Kita lakukan, nikmati prosesnya.
  2. Berlatih untuk mengenali apa yang Kita rasakan dengan tidak melabelinya. Ketika Kita sedang marah atau tidak puas, maka kenalilah oh ini saya lagi marah, lalu tanyakan, apakah ini membuat kita lebih baik? Jika tidak maka pilihlah rasa yang seharusnya kita rasakan agar rasa kita membaik. Bisa dengan mengubah gerak, dari berdiri jadi duduk, dari duduk menjadi rabahan, jika tidak bisa kita berwudhu lalu shalat sunnah. Atau sekedar mundur 3 langkah ke belakang, lalu mengayun-ayunkan tangan kita sambil menarik nafas panjang.
  3. Berfokus pada orang ada di depan Kita, ketika Kita sedang asik mengobrol, simpan gadget kita, dengarkan apa yang dia katakan dengan pendengaran aktif (mengamati apa yang dikatakan dan bahasa norverbal/ mimik/ gestur tubuhnya. Bukan melayang kemana pikiran Kita), lalu beri tanggapan positif yang menumbuhkan suasana positif. Jadilah pendengar yang baik, bukan pembicara yang hebat. Kita hadir untuk mereka.
  4. Berlatih untuk insecure pada apa yang akan Kita pertanggung jawabkan di hari akhir, bukan pada yang Kita miliki dibandingkan dengan orang lain miliki.
  5. Filter mana informasi yang menumbuhkan, filter mana lingkungan yang menumbuhkan. Kita hari ini bisa jadi adalah apa yang kita pikirkan berdasarkan atas informasi dan lingkungan yang kita berada.

 

Kurang lebih itu dulu materi hari ini, semoga bermanfaat dan membuat Sabahat BOBers di sini bisa terus bertumbuh juga semakin bermanfaat. Barakallahufiikum..

 

Sampai jumpa di Artikel selanjutnya !

Menjadi Lebih Produktif Dengan Teknik Deep Work Dan Pomodoro

Menjadi Lebih Produktif Dengan Teknik Deep Work Dan Pomodoro

Oleh Khairil Amin Rasyid

Kita semuanya tentu menginginkan untuk menjadi lebih produktif, lebih bisa menuntaskan semua perencanaan, dan mendapatkan hasil atau pencapaian yang kita inginkan bukan? Pertanyaannya adalah seberapa banyak itu terjadi? Sering? Cukup Sering? Pernah? atau Tidak pernah tercapai?. Jika seringkali kita mengalami kegagalan dan tidak pernah tercapai apa yang kita tetapkan, bisa berdampak sangat buruk, salah satunya adalah kepada kondisi kesehatan jiwa kita. Kegagalan demi kegagalan bisa membuat Kita tidak mempercayai diri sendiri, yang terberatnya adalah membenci diri sendiri. Tentunya kita tidak menginginkannya bukan? Jika sudah terjadi, ada baiknya dilepaskan perasaan tersebut, terima diri Kita apa adanya, terima kondisi yang terjadi, ridha atas ketetapan yang sudah terjadi. Karena hanya dengan menerima kondisi yang sudah terjadi, memudahkan diri kita untuk melangkah maju ke depan.

Untuk mencapai tujuan ataupun target yang sudah kita tetapkan kita membutuhkan diri kita untuk lebih produktif, definisi produktif di sini bukan melakukan banyak hal dalam satu waktu, bukan semakin banyak aktivitas bukan berarti Kita semakin produktif. Menjadi produktif yang saya maksud dalam artikel ini ketika Kita bisa atau berhasil menyelesaikan tugas/ kegiatan/ perilaku yang mendorong diri kita pada tujuan / target yang sudah kita tetapkan.

Kita ambil contoh ya, Misalnya kita ingin mencapai omset 20 Juta di minggu pertama, Kita menetapkan bahwa harus posting minimal 5 post di 3 platform soal media (Instagram dan Facebook) dan 2 platform distribusi konten (Youtube dan Tiktok); lalu kita tetapkan akan mengerjakannya di waktu pagi hari pukul 08.00 – 10.00 WIB. Jika kita berhasil melakukannya, maka itu dikatakan produktif, tetapi jika kita gagal karena kita sibuk mencuci piring, membuka email yang masuk, membalas chat yang masuk, dan scrolling mencari ide, maka hal itu tidak produktif; karena aktivitas buka email, balas chat, scrolling sama sekali tidak mendekatkan pada tujuan/ target yang sudah kita tetapkan. Lalu kita beralibi, loh kan aktivitas itu penting karena juga harus dilakukan. Jawabannya sederhana, pertahankan kebiasaan tersebut! Lihat sebulan ke depan, apakah tujuan kita bisa tercapai?

Setelah Kita memahami definisi produktif yang tepat, maka kita perlu paham Seperti yang kita tahu, musuh dari menjadi produktif adalah distraksi. Sederhananya ada 2 distraksi yang sering kita hadapi :

Distraksi Internal 

Distraksi internal ini berupa lintasan-lintasan pikiran, yang sama sekali tidak relevan dengan tujuan kita.

  1. Distraksi Eksternal

Distraksi eksternal ini bisa berupa notifikasi chat WhatsApp, email, maupun sosial media kita.

Jika kita “mengizinkan” diri kita untuk menerima distraksi di waktu yang penting apalagi di waktu yang sudah kita tetapkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting terkait pencapaian tujuan yang sudah kita buat, kita akan kesulitan untuk mencapai tujuan kita.

 

Dalam artikel ini saya akan membahas 2 teknik bagaimana bisa tetap fokus untuk menyelesaikan tujuan yang kita tetapkan, yang diambil dari buku Productivity Hack yang ditulis oleh guru saya, Coach Darmawan Aji. Yuk, Kita bahas :

Pertama, Deep Work

Kampanye Deep Work ini pertama kali disampaikan oleh Carl Newport, ini bisa menjadi solusi kita semua untuk berfokus menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang membantu Kita mencapai tujuan kita. Deep work adalah bekerja (atau berlatih) dengan  sangat fokus, tanpa distraksi pada rentang waktu yang panjang secara teratur. Tujuannya adalah menghasilkan karya yang bernilai atau meningkatkan skill kita ke level berikutnya. Kondisi fokus yang intens seperti ini akan mendorong kapasitas kognitif kita mendekati potensi maksimalnya.

Bagaimana Caranya? menurut Carl Newport sebagai berikut : 

 

  1. Tetapkan kapan, di mana, dan berapa lama Kita akan melakukannya. 

Deep work membutuhkan konsentrasi penuh. Kita perlu melakukannya di tempat khusus dan di waktu khusus. Kita dapat menjadwalkan deep work selama 7 hari berturut-turut, 2 hari per minggu, atau 2 jam per hari.Tetapkan mana yang paling memungkinkan bagi Kita.  Setelah menetapkan, komunikasikan dengan orang-orang sekitar kita, misalnya pasangan, anak, ataupun tim. Sampaikan bahwa kita membutuhkan fokus untuk menyelesaikan tujuan yang sudah dibuat. Sampaikan dampak positifnya untuk diri kita dan mereka jika tujuan ini tercapai.

Hilangkan semua hal yang berpotensi mendistraksi dan menginterupsi Kita. Matikan internet dan telepon Kita. Fokus, singkirkan semua jika diperlukan, bisanya distraksi dimulai dari godaan yang muncul ketika terdengar notifikasi ataupun merasa bosan, “scrolling sebentar aja, ngecek hasil badminton tadi malam. Tiba-tiba hilang 30 menit, bahkan 1 jam”. Ingat, sebenarnya cukup 2 jam saja. Tahan sekuat tenaga.

Siapkan aktivitas dan fasilitas pendukung. 

Melakukan deep work membutuhkan energi mental yang cukup. Ini tidak bisa diselekan, di poin kedua di atas, bagaimana kita bisa menghadapi godaan, Kita butuh energi yang cukup besar. Pastikan Kita mengimbanginya dengan olahraga ringan dan break secara teratur. Kita juga dapat memulai ritual Kita dengan secangkir kopi untuk membantu Kita fokus. Makanan ringan berserat tinggi pun bagus untuk mempertahankan energi Kita, namun jangan terlalu banyak makan, apalagi yang bergula.

Teknik Deep work Ini pulalah rahasia mengapa J.K. Rowling menjadi salah satu novelis terkaya dij dunia. Inilah sebabnya para pemimpin dunia mampu mengubah dunia, Mereka menyempatkan, waktu untuk melakukan deep work dalam hidupnya. Saya juga pernah mendengar di podcast kang Dewa Prayoga, dimana beliau melakukan Deep work ketika menyelesaikan buku-bukunya.

Lakukan teknik ini secara konsisten, setiap hari misalnya cukum 2 – 3 jam. Lihat hasilnya dalam 1, 3, dan 6 bulan ke depan. Bandingkan dengan pencapaian kita di tahun sebelumnya.

Kedua, Pomodoro

Teknik ini dicetuskan oleh Francesco Cirillo yang terinspirasi menggunakan timer untuk membantu dirinya menuntaskan tugasnya. Dari sinilah, ia lalu merancang teknik mengoptimalkan produktivitas yang ia namakan dengan teknik Pomodoro. Pomodoro adalah timer 25 menit yang digunakan di dapur berbentuk tomat (dalam bahasa Italia, Pomodoro bermakna tomat). Kini teknik Pomodoro menjadi teknik yang sangat populer untuk membantu meningkatkan produktivitas di tempat kerja. Kitapun bisa mencobanya di rumah. Kita bisa dibantu dengan menggunakan aplikasi di handphone (ingat ketika dipakai, matikan sinyal internetnya, agar tidak muncul notifikasi yang mengganggu).

Contoh aplikasinya :

Saya sendiri biasanya menggunakan Brain Focus. Sangat mudah dan nyaman. 

 

Inti dari teknik ini sangat sederhana. Kita pecah sebuah pekerjaan besar menjadi beberapa potongan tugas yang lebih kecil, sehingga lebih mudah bagi kita untuk mengelolanya. Lalu kita atur timer 25 menit dan fokus mengerjakan tugas tersebut tanpa gangguan. Setelah 25 menit berlalu, lakukan break selama 5 menit. Satu potongan ini disebut dengan satu sesi Pomodoro. Ini contohnya pada aplikasi Brain Focus :

Saat kita berpikir, toh hanya mengerjakannya selama 25 menit, kita menjadi termotivasi untuk melakukannya. Alih Alih memikirkan besarnya tugas tersebut, kita berpikir singkatnya waktu untuk mengerjakannya. Perjalanan 1.000 langkah dimulai dari langkah pertama, maka 25 menit ini adalah langkah pertama kita.

Setelah menuntaskannya, kita akan mengalami perasaan sukses. Rasakan nikmatnya kesuksesan ini, hargai sebagai pencapaian. Kesuksesan kecil ini akan mengantarkan kita kekesuksesan kecil berikutnya. Bukankah sebuah kesuksesan besar adalah rangkaian dari kesuksesan-kesuksesan kecil? Yuk kita mulai.

Kunci keberhasilan di sini adalah fokus pada satu aktivitas tanpa gangguan. Jika pekerjaan kita membuat konten jualan dan membuat jadwal mempostingnya ataupun langsung mempostingnya, maka buatlah konten, setelah akan menjadwalkan posting ataupun mempostingnya, hidupkan internetnya hanya untuk hal tersebut. Lakukan selama 25 menit, jangan melakukan aktivitas apa pun selain menulis, jangan coba-coba membuka aplikasi di luar yang kita butuhkan, jangan coba-coba scrolling. Artinya, kita perlu mengatur agar kita benar-benar bebas dari distraksi maupun distraksi atau interupsi. Baik secara internal maupun eksternal. Lakukan dengan menjaga energi kita di 25 menit pertama, istirahat 5 menit, lalu mulai lagi di 25 menit selanjutnya. Jika kita setting 2 jam, maka kita lakukan teknik ini dalam 4 sesi. Sangat mudah bukan?

Jadi kapan kapan Kamu mau mulai kedua teknik di atas?

Lakukan dengan konsisten, jadikan kebiasaan, caranya? kerjakan minimal selama 62 hari. Ini sangat membantu Kita semuanya untuk mencapai tujuan ataupun target dengan lebih mudah. 

 

Semoga bermanfaat. Barakallahufiikum

Sampai jumpa di Artikel selanjutnya !

Fase Pertumbuhan Bisnis Kamu

Fase Pertumbuhan Bisnis Kamu

Oleh Khairil Amin Rasyid

Hari ini kita akan membahas tentang Fase Pertumbuhan Bisnis ya. Materi ini mengutip dari Buku It’s Easy Managing A Business yang ditulis oleh Coach Cahyadi Kurniawan. Materi ini penting karena 3 hal, pertama adalah untuk mengetahui sebenarnya bisnis kita di fase apa, kedua adalah sampai kita bisa mengetahui sampai fase mana bisnis kita bertumbuh, ketiga, langkah apa saja yang diperlukan untuk mencapai fase bisnis yang diharapkan.

  1. Fase Existence alias Cari Makan 

Di fase ini, masalah terbesar yang dihadapi tentu saja kecukupan cash flow / dana/ modal untuk menjalankan bisnis sehari-hari sehingga kita harus segera mengatasi fase ini secepat mungkin. Di fase ini banyak anggapan bahwa bisnis merupakan solusi untuk menyelesaikan keuangan kebutuhan keluarga, bisa jadi benar, bisa jadi sebaliknya. Kenapa? karena di fase ini banyak yang berhasil akhirnya keuangan keluarga menjadi terbantu, ada juga yang sebaliknya, hanya menyisakan utang yang besar, yang membebani keluarga.

Status kita pada fase ini merupakan self employee sebenarnya, tugas utama kita adalah CEO, Chief Everything Officer. Semua kerjaan kita yang beresin, dari branding, pemasaran/ marketing, penjualan/ sales, operasional, packing, urus resi, urus pelanggan komplain, mengupayakan repeat order, dll. Ngacung! siapa yang di fase ini? 

Ga apa-apa, bismillah semoga Allah SWT mudahkan ya.

Di fase ini ada tugas-tugas yang perlu kita selesaikan, yakni :

a. Alokasikan waktu yang tepat dan fleksibel, kapan kita mau mengerjakan bisnis, kapan kita mau urus keluarga. Kita perlu mengkomunikasikan hal ini dengan pasangan dan anak–anak. Dengan begitu gesekan dalam keluarga yang tidak diperlukan bisa diminimalisir. Tujuan kita berbisnis untuk melayani keluarga kita, bukan keluarga kita untuk melayani bisnis kita (tanam dalam-dalam pemahaman ini)

b. Usahakan modal awal diminimalisir, karena diperlukan pengetahuan, praktik, pemahaman, dan pengalaman untuk terus bertumbuh. Kita tidak perlu produksi, bisa dropship produk orang lain. Banyak pilihan sebenarnya bisa jadi marketer brand orang lain, dropship barang dari marketplace, menjadi micro influencer, dsb. Step awalnya tentu kita sudah harus menetapkan target market yang tepat dan juga memahami problem serta kebutuhan mereka.

c. Fokus belajar marketing, sales, dan customer relation management. Ini basic yang menjadi mesing uang/ cash flow bisnis kita. Fokus pada platform-platform yang menghasilkan, satu per satu yah. Lakukan sampai level mastery. Fokus ke satu barang, sampai kita memahami benar kebutuhan dan problem mereka, tidak hanya itu pelajari gaya hidup mereka, buat konten-konten atau pelayanan yang relevan dengan hal-hal tersebut.

d. Jika kita ingin terus bertumbuh, maka mulai pisahkan uang bisnis dan pribadi, catat setiap transaksi, hitung laba rugi. Perlu dipahami, Keuangan itu bahasa bisnis, kita mengetahui sebenarnya bisnis kita bertumbuh atau sebaliknya dari laporan keuangan. Strategi bisnis pun bisa mudah dibuat dengan perhitungan keuangan yang ada. Level bisnis yang tinggi, pada akhirnya bukan hanya masalah branding saja, tetapi lebih pada strategi keuangan. Bisa satu bisnis tapi bisa menghasilkan beberapa sumber keuangan. Contoh, Mc Donald, sebenarnya selain bisnis kuliner ada bisnis property di baliknya, setiap investor yang ingin membuka cabang Mc Donald, harus setuju dengan lokasi yang ditentukan pihak perusahaan, biasnya sewa, dan lokasi tersebut dimiliki oleh Mc Donald.

e. Jaga hubungan baik dengan customer / pelanggan yang sudah ada, karena bisnis kita pada akhirnya ditopang salah satunya oleh mereka. Ketika mereka loyal, maka mereka bisa menjadi sumber cash flow kita sekaligus marketer efektif dari produk / jasa yang kita jual.

Product Market Fit harus diusahakan di fase ini. (baca materi WhatsApp lalu ya, klik : https://bisnisonlinebertumbuh.com/sharing-grup-wa-bob/product-market-fit/ )

Banyak tantangan yang harus kita selesaikan sendiri sebagai pemilik bisnis dengan cepat dan tepat. 

Krisis yang dihadapi di fase ini adalah pengujian komitmen Kita sebagai pemilik usaha, apakah masih kuat untuk menghadapi segala tantangan yang ada, ataukah ada pilihan lain yang lebih menarik? Bila ternyata ada pilihan yang lebih menarik maka perusahaan tersebut pasti bubar.

2. Fase Menemukan Diri alias Cari Duit

Pada fase ini, bisnis kita sudah menemukan celah pasar (produk market fit) yang bisa bisnis kita layani, maka omset bisnispun harus secepatnya didongkrak (boost) setinggi mungkin. Pada momen setelah menemukan celah yang tepat, order pun dengan mudah berdatangan dan kegiatan Perusahaan bun menjadi sangat sibuk.

Ciri-cirinya : 

  1. Bisnis akan sibuk sekali menerima orderan.
  2. Kalau kita tanya pelanggan, kalau bisnis kita tutup hari ini, 40 % mereka menjawab jangan, karena sudah ketergantungan.
  3. Repeat order dari pelanggan yang sama terus berdatangan.
  4. Pelanggan baru selalu ada setiap harinya.
  5. Pelanggan lama, dengan senang hati mengajak orang di sekitar (circle) mereka untuk membeli produk atau jasa kita.

Apa yang perlu kita lakukan ?

  1. Mapping/ petakan, mana kerjaan yang bisa kita alokasikan ke orang lain. Fokuslah untuk mempelajari trend branding-marketing-sales terbaru dan buat strategi yang tepat.
  2. Kelola keuangan sebijaksana mungkin, sebagai owner kita menerima uang dari gaji (hitung kebutuhan dan keinginan kita, fokus pada kebutuhan, dari situ keluar angkanya), bukan dari keuntungan apalagi dari omset.
  3. Mulailah bangun tim. Di sini isu mengenai break-even point dan besaran gaji maupun komisi harus sudah diperhatikan. 
  4. Fokus pada bagaimana mengelola dan mengontrol perkembangan bisnis sebaik mungkin. 

Krisis yang mungkin kita hadapi adalah exhausted atau kecapaian, energi habis. Maka olahraga, jaga makan, atur waktu dengan keluarga, bahkan healing harus diperhatikan. Jika fisik dan hubungan dengan keluarga tidak dijaga dengan baik, bisa-bisa malah jatuh sakit, keluarga tidak harmonis bahkan hilang arah, dan tentunya bisnispun tidak terkontrol lagi.

3. Fase Perkembangan alias Leverage 

Supaya bisnis kita bisa terus berkembang secara cepat, maka kita harus mulai menerapkan sistem sehingga setiap proses mudah diduplikasi dan bisa dibagikan untuk dilakukan tim kita.

Di fase ini, umumnya kita sering merasa bisnis “ga kepegang”, sampai-sampai bisnis dibiarkan berjalan sendiri, alias auto pilot, seperti hal yang keren, tetapi tidak jelas mau ke mana arahnya. Inilah yang disebut perkembangan pasif atau disebut abdikasi (membiarkan terserah apa yang terjadi). Bisnis kita asal jalan saja, tanpa target maupun visi yang jelas.

Kalau keadaan ini dibiarkan maka bisnis kita bisa terjerumus dalam krisis over expanding. Kalau fondasi (mastery-nya) tidak kuat, akan cepat terperangkap ke dalam kesulitan likuiditas/ keuangan. Ini yang sering  disebut: bisnis semakin besar dan semakin sibuk, tetapi malah butuh duit terus. 

Tugas kita di fase ini adalah : 

  1. Ingat tujuan kita berbisnis, fokus pada visi hidup setelah kematian kita, gunakan sumber daya yang ada sebijak mungkin. Pisahkan kebutuhan dan keinginan, jangan sampai terjebak pada cash yang berlimpah, gaya hiduppun melesat.
  2. Buat target per tahun, per tiga bulan, dan per bulan.
  3. Delegasi ke tim dilakukan dengan kontrol yang baik, mulai dibuat SOP, KPI, dan Target per tim disesuaikan dengan target yang sudah dibuat.
  4. Gunakan cash perusahaan sebijaksana mungkin, fokuskan pada yang berdampak bagi bisnis baik jangka panjang maupun jangka pendek.

4. Fase Pembentukan Tim 

Kalau kita sadar, kita akan berusaha melewati keadaan di atas, dengan cara segera membentuk tim yang solid. Dari sini, mulailah kepemimpinan kita diuji, jika kita tidak memiliki kepemimpinan yang baik. Segalanya bisa serba-autokratis. Semuanya harus di-acc dulu oleh kita sebagai pemimpin bisnis, apakah boleh jalan atau tidaknya. Di fase ini, umumnya kita berpikir sebagai superman, bukan superteam, ini bisa menyebabkan tim kurang bisa berkembang. Seringkali kita merasa yang mengetahui segalanya, dan bisa semuanya.

Tantangan di fase ini adalah bagaimana menarik talenta yang terbaik dan cocok dengan budaya dan visi bisnis kita untuk bergabung. Karena sebenarnya diri terbatas, terutama di masalah waktu, kalau kita tidak mempercayai tim kita, maka sumber daya yang ada di bisnis kitapun merasa tidak bertumbuh, kitapun bisa kehilangan orang-orang terbaik di bisnis kita.

Di fase ini yang perlu dilakukan adalah : 

  1. Tentukan visi, target dan budaya organisasi bisnis kita. Lalu kita lakukan sebagai tauladan. 
  2. Didik tim kita untuk bisa menyelesaikan tugasnya dan mengeksekusi target-target yang sudah ditetapkan. Jika kita tidak mampu, maka kita menyekolahkan tim kita kepada training-training yang dibutuhkan untuk mencapai visi dan target tersebut.
  3. Rekrut tim dengan prinsip orang yang tepat, di tempat yang tepat, yang kinerja yang tepat.
  4. Ingat, aset terbesar perusahaan bukan SDM, tetapi SDM yang berkontribusi maksimal bagi bisnis dan memiliki keinginan untuk bertumbuh.

5. Fase Mengembangkan Sistem untuk Kontrol 

Dalam fase pembentukan tim, sudah pasti harus dibuatkan sistem yang menjelaskan koridor tanggung jawab di setiap jabatan yang disebut job description. Semua pekerjaan tersebut harus terukur dengan menerapkan tolok ukur kinerja (KPI = Key Performance Indicators), juga manual standar operasi yang disebut SOP.

Tugas kita di fase ini adalah : 

  1. Minimal punya capaian dalam 3 bulan, ini harus disiplin dibuat, dimonitoring, dikontrol, evaluasi dan perbaiki.
  2. Dalam membuat target 3 bulan kita bisa menggunakan metode OKR (Objective Key Result). Sederhanaya : Objective merupakan target tertinggi kita, Key Result adalah ukuran pencapaian yang jelas. Misalnya Objective : mencapai distributor tertinggi di brand A, Key Result : Omset 500 Juta di bulan ke tiga, 300 Juta di bulan kedua, dan 100 Juta di bulan pertama. 
  3. Setelah dibuat OKR untuk 3 bulan, maka buat perilaku apa saja yang mendorong agar target tersebut tercapai, ini disebut dengan Initiative / Inisiatif. Ini bisa dituangkan ke bentuk KPI. Misalnya, sehari harus masuk 100 leads baru dengan tingkat konversi sales 30%.
  4. SOP ini dibuat dengan mengamati aktivitas yang berdampak pada tujuan. Misalnya pada chat CS selalu diakhiri pertanyaan (materi optimasi WA lalu, baca : https://bisnisonlinebertumbuh.com/sharing-grup-wa-bob/tips-optimasi-whatsapp-untuk-meningkatkan-repet-order/ ). Jika sudah mendapatkan aktivitas apa saja yang berdampak, catat dan dokumentasikan (kalau perlu dibuat video tutorialnya), ini yang dijadikan SOPnya).

6.  Fase Birokrasi/Red Tape 

Bila kita tidak sadar dengan rutinitas dan komunikasi organisasi yang tidak lancar, Bisnis kita pun memasuki fase birokrasi. Birokrasi sebenarnya bertujuan untuk memperlancar bisnis dalam melayani pelanggannya, tetapi biasanya justru menjadi alat business owner untuk mengontrol dalam arti kata negatif, yaitu mencegah kemungkinan kebocoran ataupun manipulasi yang bisa terjadi di bisnis kita karena skala organisasinya yang sudah besar.

Dan, dalam fase ini, biasanya CEO yang dipilih untuk memimpin perusahaan tersebut adalah orang yang teliti dalam hal finansial, di mana kehati-hatian adalah kredo utama, bukan lagi kreativitas dalam mengembangkan pasaran baru. Dengan sendirinya, perusahaan memasuki fase melambatnya pertumbuhan, bahkan sampai mandek alias stagnate, karena kreativitas yang ada di fase awal saat mendirikan bisnis sudah tidak dihargai lagi. 

Bila birokrasi tidak dijalankan dengan benar maka birokrasi yang semestinya untuk melayani justru menjadi alat penghambat jalannya bisnis. Bila ini terjadi, perusahaan yang tadinya simpel dan transparan sehingga bisa cepat berkembang, telah berubah menjadi perusahaan yang ruwet, kompleks, dan banyak prosedur yang tidak jelas. Mulai terjadi tabu ini tabu itu. Transparansi menjadi isu yang tabu dibicarakan. Perusahaan memasuki era serba rahasia dan grup politik kantor (office politics) pun berkembang pesat!

Dan, bila kita sebagai business owner tidak sadar, dia semakin banyak dikelilingi anggota tim yang “asal bapak senang”. Lebih banyak pujian dilontarkan daripada ajakan menghadapi kenyataan agar terus berkembang. Dia pun terisolasi dan menjadi “tuli dan buta”’, tidak sadar akan kenyataan sehari-hari.

Ini catatan penting!

Penting sekali di Hari ini untuk lebih agile  / lincah, karena perubahan begitu cepat, kalau kita terlalu nyaman dengan kondisi organisasi bisnis yang kaku, umumnya akan punah. Kita melihat di perusahaan sebesar Nokia-pun bisa tumbang karena tidak bisa berubah menghadapi perubahan yang besar di industri telekomunikasi.

7. Fase Entrepreneurship/Kewiraswastaan 

Biasanya, setelah melihat angka KPI finansial yang menurun, sebagai business owner, kita  baru menyadari keadaan bahwa orang-orang yang proaktif mulai meninggalkan bisnis kita dan yang pasif lebih banyak memegang posisi kunci. Untuk memperbaiki keadaan ini, Kita harus merevitalisasi Visi, Misi, dan Budaya perusahaan. Menegaskan kembali apa tujuan bisnis kita di awal dan apa kontribusi produk atau jasa perusahaan bagi pelanggannya bisnis kita.

Tantangan kita sebagai pemimpin adalah menghidupkan budaya perusahaan dan mendorong semua tim untuk berinovasi lagi sekaligus fleksibel / agile / lincah dalam mengejar pertumbuhan. 

Bisa saja karyawan yang tersisa sudah terlalu tua dan tidak memiliki hasrat maupun gairah untuk berubah. Tiba saatnya bisnis harus kembali ke siklus awal, sebagai perusahaan yang baru lahir. Kalau Kita sebagai business owner sadar, maka kita bahkan mengganti diri kita sendiri yang berada di posisi puncak dengan pemimpin muda (anak, kalau perusahaan keluarga) yang lebih energik dan penuh ide baru.

Demikianlah siklus / fase bisnis yang umumnya terjadi di hampir semua bisnis, dan itu berbanding lurus dengan siklus kehidupan manusia. Oleh sebab itu, bisnis juga disamakan dengan makhluk hidup, ada masa lahir, remaja, dewasa, tua, dan bahkan mati—kalau tidak dirombak dan diremajakan. Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa pada setiap fase, fokus utamanya berbeda-beda. 

So, perusahaan Kamu sekarang di fase apa?

Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah menyimak.

Jazakumullah khair.

Barakallahufiikum.

Sampai jumpa di Artikel selanjutnya !

Menata Pikiran Untuk Memudahkan Dalam Mengeksekusi Rencana

Menata Pikiran Untuk Memudahkan Dalam Mengeksekusi Rencana

Oleh Khairil Amin Rasyid

Seperti biasa, setiap hari senin kita akan membahas materi pengembangan diri ya. Nah, setelah kemarin kita membahas bagaimana mempertahankan atensi dan fokus atas banjirnya informasi yang terus memborbardir kita melalui gadget yang sehari-hari ada di tangan kita. Hari ini Kita akan membahas tentang bagaimana menata pikiran kita dalam mengekseskusi rencana yang Kita buat.

Kenapa materi ini menarik ? karena sering kali kita tidak menyadarinya, namun faktanya sangat berpengaruh dalam langkah kita. Apa itu? Self talk, yang merupakan kegiatan dialog di internal diri kita. Kalau kita pernah nonton sinetron-sinetron, seringkali pemeran antagonis (yang menjadi penjahatnya) berdialog pada dirinya mengenai niat jahatnya terhadap pemeran utama di sinetron tersebut. Misalnya, “mmhh, rasakan Kamu! Akhirnya Kamu merasakan kepedihan yang Saya rasakan!”. Dialog-dialog dalam diri ini yang sebenarnya mengisi pikiran kita, pada akhirnya mendorong perasaan, dan akhirnya membuat kita melakukan sesuatu atau memutuskan sesuatu. Coba ingat-ingat deh, ketika kita mau belanja, lalu larut dalam pertimbangan-pertimbangan yang dalam akhirnya baru bisa memutuskan mau beli yang mana setelah sekian lama, “duh, yang ini mahal, tapi bagus banget!!! Yang ini murah, tapi modelnya biasa banget. Duh, pilih yang mana ya?”

Self talk ini yang sering kali tidak kita sadari, atau mungkin kita menyadarinya namun cenderung mengabaikannya. Coba diingat-ingat lagi, perkataan-perkataan yang terjadi di pikiran kita pagi ini, kira-kira lebih banyak yang membuat kita lebih berdaya atau sebaliknya, cenderung melemahkan, menyakiti diri sendiri, dan memandang rendah diri?

Ingat ya rumus bagaimana sebuah perilaku bisa terjadi di materi lalu ya, sebagai berikut :

Jika kita melihat gambar di atas, dalam teori Human Model of The Wolrd, Pikiran mempengaruhi Perasaan, Perasaan Mempengaruhi Perilaku, Perilaku mempengaruhi Hasil. So, jika pikiran kita membuat kita berdaya, maka perasaan kitapun semakin berdaya (misalnya menjadi lebih semangat, menjadi lebih fokus, dan menghargai diri kita dengan apa adanya). Ada beberapa teknik bagaimana menata pikiran kita agar lebih baik dalam membantu kita untuk tetap memutuskan yang terbaik untuk kita, untuk membantu kita dalam mengeksekusi perencanaan kita dari hari ke hari.

Step Pertama, Tentukan Target 3 bulan ke depan

Target itu seperti peta dan kompas dalam berlayar. Gerak itu ada perubahan dari keadaan sebelumnya/ saat ini menuju keadaan yang diharapkan. Ketika kita tidak mempunyai target, maka kita akan mengalir tanpa arah. Kenapa 3 bulan, ini adalah batasan waktu yang realistis, sekitar 90 – 100 hari yah. Termasuk di dalamnya membuat kebiasaanpun, secara rata-rata membutuhkan waktu sekitar 62 hari. 3 bulan adalah waktu yang ideal, tidak terlalu cepat sehingga target menjadi berat diekseskusi; tidak terlalu mengawang-ngawang karena jaraknya jelas 3 bulan.

Step Kedua, Lakukan Brain Dump / Menumpahkan Pikiran Kita

Menurut Buku Productivity Hack yang ditulis oleh Coach Darmawan Aji. Brain Dump adalah Mengeluarkan semua yang Kita pikirkan di dalam otak Kita ke media penyimpanan lainnya, misalnya Kertas atau Komputer. Melakukan Brain Dump ini membuat semua hal baik yang penting maupun sebaliknya keluar dari otak kita. Dengan begitu kita menyadari “apa yang kita pikirkan”, sehingga kita bisa memilahnya mana yang memberdayakan mana yang sebaliknya, Kitapun menjadi memiliki ruang untuk bersantai, berpikir dan berkreasi.

Caranya bagaimana ?

  1. Tuliskan apapun yang ada di pikiran kita. Baik yang penting maupun tidak, misalnya target kita, ingin membuat SOP, ingin postingan, anter sekolah si adik, keinginan membahagiakan orang tua, gosip hari tentang Lesti Kejora, yah bebas ya. Kita keluarkan semuanya ya….
  2. Pisahkan berdasarkan kategori : Mana yang termasuk Ide Baru? Tugas? Pekerjaan? Tugas? Penghambat? 
  3. Petakan mana yang berdasarkan target kita, harus Kita tuntaskan, mana yang bisa didelegasikan, dan mana yang bisa Kita buang. 
  4. Buat To Do List atau Things To Be Done (Hal-hal yang harus selesai). Perhatikan tulisan Kita, apakah ada yang benar-benar penting atau actionable (bisa dikerjakan)? Buat To Do List untuk menyelesaikannya.

Luangkan waktu 10 menit setiap harinya untuk melakukan hal ini. Wkatu terbaik adalah sebelum tidur ataupun setelah bangun tidur. Boleh juga dilakukan di kedua waktu tersebut yah.

Step Ketiga, Lakukan GROW

GROW ini merupakan singkatan dari Goal, Realities, Options, dan Will. Saya jabarkan ya :

  1. Goal, kondisi yang kita inginkan / capai di hari itu. Cukup 1 – 3 goal saja di setiap harinya. Jangan terlalu banyak.
  2. Realities, merupakan kondisi kita saat ini. Misalnya ketika kita ingin mencapai omset Rp 150.000.000 per bulan, maka per harinya adalah 5.000.000. Coba cek di hari ini kita sudah mencapai akumulai berapa? Ini membantu kita SADAR akan jarak kondisi saat ini dengan target/ goal kita. Contoh lainnya, misalnya ketika kita menginginkan punya kebiasaan posting 3 kali sehari, cek per hari ini apakah kebiasaan itu sudah terlaksana, jika kita baru mencapai 2 kali sehari, berarti perlu 1 kali lagi.
  3. Options, merupakan sumberdaya atau pilihan-pilihan yang kita punya dalam mewujudkan rencana yang kita buat. Misalnya, minta bantuan karyawan, atau pasang alarm, tempel target sebesar-besarnya di kamar kita, atau pasang foto orang tua di latar belakang HP kita, atau kita tempel foto-foto orang yang kita sayangi di meja kita, atau meminta support pasangan. Intinya, bagaimana kita memaksimalkan sumber daya eksternal / di luar diri kita untuk kita gunakan untuk membantu eksekusi rencana kita, bisa membantu mood kita, bisa menambah semangat kita.
  4. Will, merupakan Langkah pertama, komitmen tindakan. Misalnya, Saya komitmen olahraga 10 menit ba’da shubuh, agar bisa semangat di hari itu. Atau saya akan memandangi foto orang tua saya agar saya mengingat bahwa saya ingin sekali membahagiakan orang tua saya. Ini bisa dimulai dengan hal termudah dahulu. Misalnya, kalau kita ingin langsing, kita putuskan untuk olah raga, kita bisa memulainya dengan memakai pakaian dan sepatu olah raga setiap pagi, lalu jalan di depan rumah. Jadi ketika tetangga bertanya, mau olahraga Bu/ Pak? kita jawab, IYA.. Lalu pastinya minimal kita berjalan beberapa langkah. Sederhana lho…

Step Empat, Lakukan Inner Game

Dikutip dari buku Self Coacing karya Coach Darmawan Aji. Menurut Tim Galley, rumus Performance adalah Potential – Interference. Kita kembali ke pembahasan Self Talk. Menurut Tim Galley, pada diri kita adalah dua self, yakni :

  1. Self 1 (pengamat) yang merupakan kesadaran saat kita menjadi pengamat dari diri kita. Yang membuat kita berpikir, menganalisis, dan mengkritisi perilaku kita. Bagian ini punya kebiasaan membuat mengkritik, menilai, mengajari dan mengevaluasi diri kita, pernah kepikiran, “coba dari dulu, saya lakukan ini”, “duh, gimana sih, saya bodoh banget di depan klien”. 
  2. Self 2 (pelaku) adalah kesadaran saat kita melakukan sesuatu secara All Out. Tanpa berpikir, hanya melakukan. Bagian diri kita yang belajar, bekerja, dan melakukan sesuatu.

Sayangnya seringkali ketika mengeksekusi rencana kita Self 1 yang sering mendominasi pikiran kita, misalnya, mengatakan ke diri kita untuk bekerja lebih keras alih-alih mengizinkan diri kita bekerja dengan kadar yang “PAS”, mengkritik pekerjaan kita, memberitahu betapa buruknya perkejaan kiya, lalu mengingat masa lalu yang kurang memberdayakan. Ini yang dimaksud dengan Interferensi.

Lalu yang perlu dilakukan adalah memperkecil interferensi ini, dengan berfokus menyelesaikan pekerjaan / eksekusi perencanaan kita sebaik yang kita bisa.  Tenangkan Self 1, dengan menghargai apa yang kita lakukan, dengan perubahan sekecil apapun. Lakukan Trusting Mindset yakni kita percaya penuh pada kemampuan kita!

Lakukan ini ya, agar Sahabat BOBers di sini bisa semakin berdaya dalam mengeksekusi/ melaksanakan rencana yang telah kita buat, pada akhirnya akan membuat kita percaya diri, dan mencintai diri, tentunya lebih bahagia lagi.

 

Semoga bermanfaat. Jangan lupa dishare jika bermanfaat, agar ini menjadi pahala untuk Sahabat BOBers semuanya..

Barakallahufiikum.

Terima kasih sudah membersamai proses belajar hari ini. Jazakumullah khair…

 

Sampai jumpa di Artikel selanjutnya!